Ribuan Petani Bone Bersiap Nikmati Pasokan Air Lebih Stabil, Irigasi Bengo Direhabilitasi Pemprov Sulsel
![]() |
| Irigasi Bengo Direhabilitasi Pemprov Sulsel |
BONE -- Ketersediaan air masih menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan panen di banyak sentra pertanian Sulawesi Selatan. Ketika saluran irigasi mengalami kerusakan, dampaknya langsung dirasakan petani melalui berkurangnya pasokan air, turunnya produktivitas, hingga meningkatnya risiko gagal panen.
Situasi itulah yang kini menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui rehabilitasi Daerah Irigasi (DI) Bengo di Kabupaten Bone. Proyek ini diharapkan mampu memperbaiki distribusi air bagi ribuan hektare sawah yang selama ini bergantung pada jaringan irigasi tersebut.
Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman menandai dimulainya pekerjaan dengan melakukan peletakan batu pertama atau ground breaking di Kecamatan Bengo, Kabupaten Bone.
Mengapa Irigasi Bengo Menjadi Prioritas?
Bagi daerah yang mengandalkan sektor pertanian sebagai penggerak ekonomi masyarakat, keberadaan jaringan irigasi bukan sekadar infrastruktur pendukung. Saluran air menjadi penentu keberlangsungan musim tanam dan produktivitas lahan.
Pemerintah Provinsi Sulsel menilai banyak jaringan irigasi yang saat ini membutuhkan perbaikan karena usia konstruksinya sudah sangat tua. Sebagian bahkan telah digunakan sejak era kolonial dan mengalami penurunan fungsi akibat kerusakan di berbagai titik.
Kondisi tersebut menyebabkan distribusi air tidak lagi optimal, terutama pada saluran utama yang menjadi sumber pengairan lahan pertanian.
"Rehabilitasi ini merupakan langkah strategis untuk memastikan kebutuhan air bagi lahan pertanian dapat terpenuhi secara optimal dan berkelanjutan," kata Andi Sudirman.
Bagian dari Proyek Irigasi Bernilai Ratusan Miliar Rupiah
Rehabilitasi DI Bengo masuk dalam Paket 2 program rehabilitasi jaringan irigasi multiyears yang dijalankan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.
Program tersebut mencakup sejumlah daerah irigasi di Kabupaten Bone, Soppeng, dan Wajo dengan total anggaran mencapai Rp268,9 miliar.
Dari jumlah tersebut, sekitar Rp118 miliar dialokasikan khusus untuk memperbaiki delapan daerah irigasi strategis di Kabupaten Bone.
Kedelapan daerah irigasi itu meliputi DI Unyi, DI Lanca, DI Jaling, DI Salomekko, DI Waru-Waru, DI Bengo, DI Selli Coppobulu, dan DI Lalengrie.
Investasi pada sektor pengairan ini menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah untuk menjaga keberlanjutan produksi pertanian dalam jangka panjang.
Pengairan 2.600 Hektare Sawah Ditargetkan Lebih Optimal
Salah satu manfaat paling nyata dari rehabilitasi DI Bengo adalah peningkatan layanan air untuk lahan pertanian.
Pemerintah menargetkan jaringan yang diperbaiki mampu mengoptimalkan pengairan sekitar 2.600 hektare sawah produktif di Kabupaten Bone.
Jika distribusi air berjalan lebih lancar, petani memiliki peluang lebih besar meningkatkan intensitas tanam dan menjaga produktivitas panen sepanjang tahun.
Perbaikan ini juga diharapkan mampu mengurangi berbagai kendala yang selama ini muncul akibat kebocoran saluran maupun menurunnya kapasitas jaringan irigasi.
Ketahanan Pangan Dimulai dari Infrastruktur Dasar
Di tengah meningkatnya tantangan sektor pertanian akibat perubahan iklim dan kebutuhan pangan yang terus bertambah, penguatan infrastruktur pengairan menjadi langkah yang semakin penting.
Sulawesi Selatan selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Posisi tersebut membutuhkan dukungan sistem irigasi yang mampu menjamin pasokan air secara berkelanjutan bagi petani.
Karena itu, rehabilitasi jaringan irigasi tidak hanya berdampak pada satu kawasan pertanian, tetapi juga berkaitan dengan upaya menjaga stabilitas produksi pangan daerah.
Pemerintah berharap proyek ini dapat selesai sesuai jadwal sehingga manfaatnya segera dirasakan petani. Jika distribusi air menjadi lebih efisien, bukan hanya hasil panen yang berpotensi meningkat, tetapi juga ketahanan ekonomi masyarakat pedesaan yang selama ini bergantung pada sektor pertanian sebagai sumber penghidupan utama.
