Peluk Erat Suami, Terlepas Saat Ditabrak Sekoci
2 min read
-Cerita Penumpang KMP Mutiara Sentosa
Dua penumpang Kapal Motor Penumpang (KMP) Mutiara Sentosa I yang mengalami kebakaran di Perairan Masalembo, Jumat 19 Mei lalu, berhasil dievakuasi ke Kota Makassar, Minggu, 21 Mei.
*******
Salah seorang penumpang yang selamat itu, Minarsih, (54). Ia terbaring lemas di ruang perawatan Rumah Sakit Stella Maris dengan tali inpus terpasang di balik telapak tangan kanannya, Minggu malam.
Matanya sembab. Ia berulang kali menyeka air matanya dengan tisu. Warga Kelurahan Sawahan, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur (Jatim) ini terus memikirkan suaminya, Rachmad Ariyanto Sirry, (58), yang belum diketahui nasibnya.
Ia menceritakan, sebelum Kapal Motor Penumpang (KMP) Mutiara Sentosa I terbakar. Dirinya sedang duduk menikmati angin yang berhembus di atas geladak. Sedangkan Rachmad terlelap tidur dengan alas tikar seadanya, sekira pukul 16.30 WIB.
Tak berselang lama, terdengar pengumuman dari pengeras suara bahwa kapal yang ditumpanginya itu terbakar. Penumpang panik dan berlarian. Minarsih segera membangunkan suaminya. "Mas, bangun kapal terbakar,"kata Minarsih saat itu kepada suaminya.
Rachmad terbangun dengan tergesa-gesa. Segera ia mencari jaket pelampung. Ia mondar-mandir namun tak menemukannya. Di tengah kepanikan para penumpang, sejumlah Anak Buah Kapal (ABK) berusaha menenangkan dan membagikan jaket pelampung.
"Karena suami saya sudah mondar mandir mencari jaket pelampung namun tidak menemukannya, saya pun berteriak meminta kepada ABK. Saya diberikan dua,"beber Minarsih.
Wanita paruh baya dan suaminya itu segera mengenakan jaket pelampung. Api kian membesar terlihat dari bawah dek kendaraan di bagian buritan kapal. Posisi kapal saat itu, beber Minarsih, sudah miring ke kiri.
Para ABK mengarahkan dan mengevakuasi para penumpang untuk naik ke anjungan kapal. "Kami disuruh berkumpul di bagian kanan kapal, karena kapal sudah miring ke kiri. Penumpang saat itu sudah ada yang melompat ke laut,"bebernya.
Api kian membesar dan mendekatinya. Beberapa kali terdengar suara ledakan. Minarsih dan suaminya lantas memberanikan diri meloncat ke laut. Keduanya dalam posisi berpelukan. "Kami menyebur barengan,"ujar Minarsih sembari menyeka air matanya dengan tisu.
Di tengah laut itulah, sekira pukul 18.00 WIB. Suasana gelap, suami istri itu terus saling berpelukan. Rachmad yang berperawakan tinggi besar itu terus memeluk erat Minarsih yang bertubuh gempal tersebut. "Jangan sampai lepas dek,"kata Rachmad kepada Minarsih saat itu.
Di tengah perjuangan dalam bertahan hidup itu, tubuh Minarsih ditabrak sekoci yang melintas. Tubuhnya terbenam ke dalam air. Pelukan erat Rachmad ke Minarsih terlepas. Tubuh Minarsih terhempas menjauh dari suaminya.
"Tiga kali saya ditabrak sekoci. Ini pinggul saya memar. Saat itu saya tenggelam (terbenam ke dalam air, red) dan kembali muncul (mengapung, red) lagi. Tapi, suami saya sudah tidak ada,"ceritanya dengan sesunggukan menangis.
Kurang lebih tiga jam Minarsih berada di tengah lautan yang gelap. Ia hampir putus asa. Namun, dari kejauhan ia melihat cahaya lampu navigasi sebuah kapal, yang diketahui merupakan kapal kontainer MV Meratus.
Minarsih terus berenang ke arah kapal itu, . Akhirnya, ia pun diselamatkan oleh ABK MV Meratus dan dievakusi serta dibawa ke Kota Makassar untuk mendapatkan penanganan medis di Rumah Sakit Stella Maris.
Ibu empat anak ini menjelaskan, dirinya dan suaminya itu meninggalkan Jatim karena hendak membuka warung makan di Kalimantan. "Jadi, modal Rp10 juta untuk buka usaha warung dan sepeda motor yang dikendarainya juga ikut terbakar,"bebernya.
Minarsih menceritakan, Rachmad merupakan suami keduanya. "Suami pertama saya sudah meninggal. Dari suami pertama itu, saya dikaruniai empat orang anak, dua perempuan dan dua laki-laki,"bebernya.
Kepala Basarnas Makassar, Amiruddin, menjelaskan, ada dua penumpang yang berhasil dievakuasi Kapal Kontainer MV Meratus dan tiba di Dermaga Peti Kemas Pelabuhan Soekarno Hatta, Minggu, 21 Mei. (*)
