Sosial Media
0
Labels Header
News
    Home Headline Opini

    Alwy Rachman: Narkotika dan Gladiator Global

    2 min read

    Pada 1830-1840-an, ada sebuah kisah tentang candu (sekarang disebut narkotika). Kisah sejarah yang disebut sebagai Perang Candu. Perang ini bermula dari hubungan dagang antara dua negara berperadaban tinggi, yaitu antara Inggris dan China. Oleh sebagian sejarawan, kisah ini disebut sebagai Revolusi Candu.


    Alwy Rachman.


    Revolusi Candu menjadikan China menjadi pecundang dan Inggris sebagai pemenang. Cina takluk lewat taktik Inggris yang menjerat rakyat China dengan candu. Candu dipasok secara besar-besaran ke China yang membuat rakyat China menjadi rakyat pemabuk.

    Penguasa-penguasa China pun pusing tujuh keliling dan akhirnya menutup semua pintu pelabuhan bagi kapal-kapal dagang Eropa. Penutupan akses pelabuhan inilah yang kemudian mendorong Inggris menyatakan perang terhadap Cina. Muncullah episode Perang Candu antara Inggris dan Cina.

    Hari-hari ini, di Indonesia dan di negeri-negeri lain, istilah candu menjadi kuno. Istilah candu menjadi baru, yaitu narkotika. Narkotika pun diberi label haram meski sebagian pihak menjelaskannya sebagai golongan obat analgesik yang berfungsi menghilangkan rasa sakit. Racikan dan jenisnya pun semakin canggih dan bervariasi: opium, ganja, kokain, amfetamin, dan segala senyawa barbital lainnya.

    "Revolusi Candu belum usai," begitu penilaian banyak orang. Di abad globalisasi, candu bukan lagi urusan dua negara yang bertikai, sebagaimana Inggris dan Cina pada masa lalu. Di abad globalisasi, candu menjadi narkotika dan menjadi bisnis kelompok-kelompok kartel internasional dan yang berhadapan dengan pemimpin negara-bangsa.

    Alvin Toffler, seorang pemuka pemikir futuristik (pemikir masa depan), malah menyebut kelompok-kelompok kartel ini sebagai The Empire of Cocaine atau "Kerajaan Kokain". Sedangkan James Mills menyebutnya sebagai The Underground Empire, yang artinya "Kerajaan Bawah Tanah".

    Baik Toffler maupun Mills mengkonfirmasi bahwa "Kerajaan Kokain" dan "Kerajaan Bawa Tanah" ini adalah pelaku baru di dunia. Kedua penulis ini menegaskan bahwa aktor baru ini berbahaya bagi banyak bangsa. Pelaku-pelaku baru ini pantas disebut sebagai "gladiator global" (pembunuh global).

    Kedua pemikir ini menyatakan "Kerajaan Kokain" dan "Kerajaan Bawah Tanah" ini memiliki kekuatan senjata, memiliki uang besar dan dapat menyuap pejabat dan tokoh sejumlah negara di dunia. Meski keberadaan "Kerajaan Kokain" ini tidak disimbolkan lewat bendera, mereka punya pasukan yang bersenjata, punya lembaga intelijen, punya kurir, punya jaringan internasional, dan punya kemampuan diplomasi.

    ***

    Adalah benar pernyataan Komjen Pol. Budi Waseso, pada satu kesempatan di media televisi, bahwa kejahatan dan penyalahgunaan narkotika bisa digolongkan ke dalam kejahatan "extra ordinary crime" (kejahatan luar biasa) yang harus dihadapi dengan secara luar biasa pula. Kita semestinya bisa mengerti mengapa Komjen Pol. Budi Waseso menginginkan undang-undang yang lebih keras.

    Keberhasilan Komjen Pol. Budi Waseso dalam membongkar jaringan besar perdagangan narkotika di republik ini menyimpan pesan penting. Pesan penting itu antara lain, "adalah sikap kekanak-kanakan jika pemimpin menganggap "Kerajaan Kokain" gampang dikalahkan hanya dengan cara lunak".

    Pemimpin negara-bangsa semestinya bereaksi secara tepat dan keras terhadap dampak bola salju penyalahgunaan narkotika. Kecepatan bereaksi menghadapi bandar-bandar perdagangan narkotik akan menyelamatkan anak-anak bangsa.

    Pada akhirnya, perwira-perwira sekaliber Komjen Pol. Budi Waseso harus didukung sepenuhnya. Tak layak rasanya, jika pemimpin-pemimpin masyarakat membiarkan perwira-perwira seperti ini bekerja sendiri. Segenap lapisan masyarakat mestinya percaya bahwa "gladiator global" (pembunuh global) ini sedang memasuki negara ini.

    Kita semestinya tak berhenti pada slogan bahwa para pemakai akan "dipenjara, gila, atau mati". Lebih dari itu, kita berhadapan dengan bahaya besar, yaitu hancurnya masa depan generasi muda bangsa. (*)
    Additional JS